Liburan Supaya Bisa Kerja, Bukan Sebaliknya


Leave a comment  →
   by Edward    Leave a comment  →

FullSizeRender

Saya orangnya suka kerja sih.

Mungkin karena saya sejak dahulu beruntung bisa punya pekerjaan yang saya cintai, saya selalu suka kerja.

Entah karena bidangnya yang saya suka, atau mungkin karena saya percaya kerja itu ibadah.

Tsah.

Ibadah, dalam pengertian, kerja itu bukan hanya bertahan hidup. Kerja itu bukan hanya sekedar cukup.

Kerja itu harusnya bagian dari kita. Bagian yang membentuk kita. Kenapa kita ada dan buat apa kita masih diberikan bangun dari tidur lelap kita setiap pagi.

Buat saya, semua itu ada artinya.

Makanya kerja itu adalah ibadah.

Kalau pergi liburan, tentu saya senang, menikmati, rileks dan hirup hangatnya mentari.

Tapi tidak pernah saya berpikir tujuan hidup saya adalah untuk bisa berbaring di atas pasir putih setiap hari.

Tidak pernah saya berpikir bahwa tujuan hidup saya adalah untuk supaya saya tidak usah kerja dan hanya liburan terus.

Saya maunya sih tidak akan pernah pensiun. Sampai akhir hayat masih mencipta, masih bicara, masih berbagi. Masih berguna dan berdampak.

Itu mimpi saya.

Saya pergi liburan supaya saya segar, supaya saya melihat dunia, supaya saya dengar banyak cerita, supaya saya tambah pinter, supaya saya istirahat, supaya batere saya diisi lagi.

Kalau batere saya sudah penuh, saya kembali ke hidup yang sesungguhnya. Yaitu kerja. Yaitu bermanfaat, menghasilkan, berbuah, berdampak.

Jadi ketika banyak orang menulis: “Ugh… kembali ke kehidupan nyata…” ketika masuk kerja setelah liburan panjang, saya mengatakan hal yang sama tapi dengan nada berbeda.

“Okeh, sekarang kita kembali ke kehidupan yang sesungguhnya. Aku siap belajar, bertarung dan mendaki!”

Jadi liburanlah supaya kamu bisa benar-benar kerja, bukan bekerjalah supaya kamu bisa benar-benar liburan.

Kita istirahat supaya bisa bertarung. Bukan bertarung supaya kita dapat hadiah liburan.

Tapi itu artinya… semuanya tergantung pada pekerjaan yang sedang kita kerjakan sekarang dong ya?

Bagaimana jika pekerjaan kita benar-benar menyebalkan?

Menurut saya yang lebih sering terjadi adalah sikap dan karakter dan sudut pandang kita terhadap pekerjaan itu yang menyebalkan.

Bukan pekerjaannya yang menyebalkan.

Orangnya yang nyebelin!

Hehehe…

Kalau sikap kamu keren dan kepala kamu pintar (karena mau belajar) dan karakter kamu memang ingin benar-benar kerja, pekerjaan kamu tidak akan menyebalkan. Apapun pekerjaan kamu itu.

Kamu akan naik kelas terus, naik pangkat terus, dikejar-kejar kesempatan terus.

Asik ga tuh: Hidup yang dikejar-kejar kesempatan?

Tsah lagi.

Makanya, mari kita mulai esok dengan sikap yang benar.

Senin besok adalah kertas putih yang siap ditulisi. Kanvas ring tinju setelah bel berbunyi. Panggung teater yang siap menerima pertunjukanmu.

Liburan telah usai. Terima kasih liburan.

Kini saatnya kita mulai bekerja.

Bookmark and Share