Dua Nasihat Penting Pernikahan Dari Ibu Saya


Leave a comment  →
   by Edward    Leave a comment  →

Banyak orang berkata, “Banyak pernikahan hancur hanya karena odol.”

Saya mengerti sih kenapa.

Saya salah satu ‘cowok odol’ ini. Ketika selesai memberi odol ke sikat gigi saya, seringkali tutupnya tidak saya pasang lagi. Dan tergeletaklah si odol dengan tutupnya di atas wastafel.

Lalu sang istri gosok gigi.

Setelah diomeli beberapa kali, saya bertobat.

Sekarang setiap saya gosok gigi, selalu berusaha pasang kembali si tutup odol ini.

Lumayan lho. Saya bangga karena saya ingat bahwa berkali-kali dengan sadar ketika gosok gigi saya pastikan tutup odol saya terpasang dan tabungnya berdiri rapi di deretan toiletries kita.

Namun sayangnya, walau sudah sangat jarang, saya masih suka lupa. Ketika buru-buru, atau ketika banyak pikiran.

Nah, sayangnya juga, setiap kali saya lupa (lupa yang sudah sangat jarang itu), sang istri berkata, “Kamu itu kalau gosok gigi selalu berantakan tutupnya.”

Di sinilah perkelahian biasanya dimulai, dan kadang berakhir dengan kata-kata, “GUE NYESEL KAWININ ELO!”

Hanya gara-gara sepotong plastik kecil.

Mungkin bukan semuanya salah si odol sih.

Lebih ke manusianya.

Seberapapun suami, istri, anak, bos, bawahan, atau teman sekantor sudah berubah dan berusaha berubah dari kesalahan-kesalahan dan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka, namun ketika satu kali itu dia lalai, kita cenderung berkata, “Kamu orangnya selalu begitu. Dari dulu udah dibilangin. Dari dulu ga pernah berubah.”

Padahal sudah banyak berubah. Hanya sebagai manusia mereka pasti masih bisa salah sekali-sekali.

Itu memang kecenderungan buruk kita: Perbaikan dan usaha menuju baik tidak pernah digubris, dianggap, dan dilihat.

Namun setiap kesalahan kecil, selalu dirasa, diterawang, diteliti, dianggap sesuatu yang sangat besaaar.

Saya jadi ingat dulu ada seorang teman perempuan yang memang sangat tempramental. Jutek. Suka bikin kesel kita karena mood-swingsnya.

Suatu hari kita bersama beberapa teman lagi duduk-duduk ngobrol, dan pembicaraan masuk ke hal-hal yang lebih pribadi. Seorang teman lain lalu berkata ke dia, “Elo tuh suka bikin kita bete. Kalau elu lagi ga suka sesuatu, jutek banget. Jadi rese. Banyak kita juga jadi bete ga suka.”

Teman saya ini tersenyum, lalu dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar dia berkata, “Iya gua tau sih. Dulu kalian pernah bilang juga kan soal moody ini. Makanya beberapa bulan ini gua sedang banyak berjuang untuk berubah. Lagi banyak berusaha ngelawan diri sendiri. Ga keliatan ya?” Setetes air mata jatuh di pipinya.

Kita semua seperti terhentak.

Kalau diingat-ingat, memang banyak perubahan yang kita lihat. Dia sudah jarang marah, sudah jarang jutek, dan selalu berusaha jadi a good team player.

Sayangnya semua itu ga ada yang kita lihat.

Yang selalu kita ingat dah lihat adalah dirinya yang jelek dan buruk dan ga pernah mau berubah.

Yang kita lihat satu hari si odol tergeletak dan bukan 30 hari dia sudah berdiri rapih.

Ibu saya jikalau ditanya anak-anak muda, “Tante, minta tips pernikahan dong…”, dia selalu berkata:

“Ada dua.”

“Satu, jangan pernah gunakan kata ‘selalu’.’

“Dua, jangan pernah gunakan kata ‘ga pernah’.”

“‘ELU TUH SELALU TERLAMBAT JEMPUT GW!!!’ – eits: suka terlambat. Mungkin juga sering terlambat. Tapi bukan selalu terlambat.”

“‘ELU TUH GA PERNAH DENGERIN GW!’ – eh entar dulu. Memang kadang nggak dengerin. Tapi banyak juga waktu didengerin. Tapi bukannya ga pernah.”

“Lakukan dua hal ini, dan niscaya kalian jauh-jauh lebih sedikit bertengkar untuk hal-hal yang tidak perlu.”

Mau coba?

:)

Bookmark and Share