Tanggung Jawab Kamu Yang Sudah Sekolah


2 Comments  →
   by Edward    2 Comments  →

Di dalam pesawat ini saya sedang mendengarkan lagu kesukaan saya lewat headphone.

Bass yg kuat berdentum dan iramanya yang riang membuat saya mengetuk kaki saya. Hati ini terbawa ringan sambil melihat gumpalan awan putih menari di langit yang biru.

Saya merasa sangat, sangat, sangat beruntung.

Keluarga saya semua sehat, tidak ada yang dalam keadaan sakit. Saya bahagia menikah bersama isteri saya, lebih manis mungkin daripada kebanyakan orang. Perusahaan tempat saya bekerja baru saja menyelesaikan beberapa proyek besar yang menguntungkan dan sekaligus prestisius, dan tidak bisa dihindari proyek-proyek yang demikian akhirnya sudah mengantri lagi untuk dikerjakan beberapa bulan ke depan. Jadwal saya bepergian perjalanan ke beberapa tempat baru dalam waktu dekat juga sudah siap. Inipun pergi untuk bertemu dengan beberapa fotografer idola yang akan memberikan kelas di Singapur. Terlalu banyak hal-hal baik yang terlintas di kepala saya, pokoknya saya merasa dalam kepenuhan rasa syukur.

Tidak pernah setetespun ada kekurangan dalam hidup saya. Banyak yang bilang karena saya memang sudah berkecukupan, atau ada yang bilang juga rasa bersyukurlah yang membuat segalanya cukup. Entah lah. Pokoknya saya merasa sangat, sangat, beruntung.

Hari ini Hari Pendidikan Nasional dan sepanjang pagi saya melihat tweet-tweet yang mengutip kata-kata Mas Anies Baswedan tentang pendidikan. Beliau memang salah satu tokoh yang paling pantas berbicara tentang pendidikan, dan hampir semua kutipannya menggetarkan hati.

Namun ada satu kutipan beliau yang saya rasa monumental dalam membelokkan jalan hidup saya di tahun-tahun belakangan ini:

“Mendidik adalah tanggung-jawab orang terdidik.”

Bertahun lalu saya terhentak di kursi saya ketika pertama dengar kata-kata itu. Tertampar rasanya. Kalau tidak salah pipi kanan :)

Kalau kamu sudah sekolah, maka sekolahkan orang lain.

Kalau hidup kamu sudah enak, maka buatlah hidup orang lain enak.

Kalau kamu sudah punya kerjaan, maka buatlah lapangan pekerjaan buat orang lain.

Kalau perkawinan kamu bahagia, bahagiakanlah perkawinan yang belum.

Saya ceritakan hal-hal yang seperti pamer di atas bukanlah untuk pamer, tapi untuk menunjukkan bahwa banyak sekali dari kita sudah enak, terdidik, sehat, dan bahagia, dan sudah saatnya kita berbuat sesuatu untuk orang-orang yang belum.

Ada yang sampai di sini karena beruntung lahir di keluarga yang berkecukupan dan berkesempatan, ada yang sampai di sini karena berjuang melawan semua keadaan pahit dalam hidupnya. Saya rasa kita tidak perlu peduli lagi akan semua itu. Yang perlu kita pedulikan adalah: jika kamu sudah sehat, makmur dan bahagia, sudahkah kita pastikan kita membantu saudara, teman, dan warganegara yang belum?

Saya sangat percaya kepemimpinan yang ditawarkan Mas Anies: bahwa masalah bangsa yang pelik dan berjuta ini jangan dihajar oleh satu orang, satu kabinet, satu pemerintahan. Tapi dihajar oleh seluruh manusia, baik sebagai keluarga, teman, maupun warganegara yang ‘sudah’ untuk bergerak membuat perubahan buat mereka yang ‘belum’.

“Sebuah gerakan semesta untuk perubahan. Bukan dari sekelompok orang yang memerintah, tapi dari semua warganegara Indonesia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.”

Begitu kata beliau.

Indah sekali jika Indonesia seperi ini yang akan diusahakan oleh para pemimpin yang memerintah. Tidak akan ada kesulitan yang terlalu pelik dan tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan, jika orang-orang yang sudah sekolah, sudah punya rumah, sudah punya tabungan, sudah sehat, sudah bahagia, mau iuran buat mereka-mereka yang belum.

“Mendidik adalah tanggung-jawab orang terdidik.”

Dan juga berjuta hal lainnya adalah tanggung-jawab kita.

Selamat Hari Pendidikan.

Bookmark and Share


  • VW

    Kerenn.

  • nurhayatna

    Bless your heart bro, appreciate your words & works.