Tempe Media Sosial


4 Comments  →
   by Edward    4 Comments  →

Dengan umur saya, saya sepertinya pernah merasakan menjadi orang dewasa tanpa mempunyai media sosial. Tanpa Facebook, BBM, Twitter, dan Path.

Di antara banyak hal-hal yang sekarang sudah hilang bersama berubahnya jaman, yang saya ingat bahwa saya dulu adalah pribadi yang jauh lebih tangguh.

Keadaan hidup yang berat, kondisi keluarga yang penuh tekanan, tantangan dalam pekerjaan, kesulitan dalam hubungan pertemanan, semua bisa-bisa saja saya lalui tanpa merasa seperti saya adalah orang paling malang di seluruh dunia.

Walaupun demikian, saya merasa bahwa di hari-hari ini saya masih lebih tangguh dari banyak orang yang saya dengar, lihat dan temui.

Dan menurut saya, media sosial-lah yang membuat kita semua menjadi lembek.

Atau lebih tepatnya, kemampuan untuk bisa selalu membagikan apa yang kita rasakan membuat kita jadi lembek.

Loyo seperti tempe.

Bayangkan sekarang jika kamu punya teman yang kamu sangat percayai dan sangat sukai, dan teman ini menelepon, katakanlah tiga hari sekali.

Di setiap telepon dia selalu berkata, “Ayo ada cerita apa? Cerita aja uneg-uneg kamu, kamu tau kamu bisa percaya aku kan? Aku kosong kok, nggak ngapa-ngapain, aku dengerin.”

Dan setiap kali juga kita bercerita tentang macetnya perjalanan ke kantor hari itu, betapa teman yang kita tidak suka pagi-pagi sudah menjilat bos kamu, lalu tentang komputer kita yang tiba-tiba crash, lalu tentang manajer kita yang menegur kita tentang deadline kita, dan betapa kita lapar bahwa kita belum makan, dan betapa kita kekenyangan setelah kita makan, dan betapa buruknya segala sesuatu tentang segala hal.

Dan ketika dia siang menelepon, dia menawarkan untuk mendengarkan kita lagi, dan kita curahkan isi hati kita lagi. Tentang teman kerja yang norak itu. Tentang orang-tua di rumah yang tidak pernah kasih perhatian. Tentang kenapa lingkar pinggang kita tidak seperti selebriti-selebriti yang kita lihat di berita-berita gosip.

Dan ketika malam dia menelepon, kita lakukan hal yang sama lagi, dengan cerita-cerita yang selalu baru tentunya.

Bayangkan jika kita melakukan ini 7 hari seminggu, 4 minggu dalam sebulan, berbulan-bulan dan bertahun-tahun.

Besi baja sekokoh apapun jika diajari untuk curhat dan mengeluh terus-menerus akan jadi tempe dengan begitu cepatnya.

Orang yang harusnya sudah bersyukur memiliki begitu banyak hal akan merasa jadi orang paling malang di seluruh jagat raya dengan begitu seketikanya.

Kita membiasakan diri kita untuk mengeluh bahwa hidup itu sulit, berat dan keras, dan jadilah benar hidup kita: sulit, berat dan keras.

Kita membiasakan diri berbagi duka, dengan harapan di antara ratusan teman kita akan ada yang reply atau berkomentar, “pukpuk, there-there, gue ngerti kok :( – sabar ya, tabah ya…”

Semuanya rasanya enak. Tapi pada saat yang sama semuanya itu juga adalah proses pembuatan tempe.

Ketika dulu kita tidak punya ‘kotak curhat’ seperti sekarang ini, waktu yang ada kita pakai untuk mencari jalan keluar, berpikir keras, dan berpeluh lebih banyak.

Paling tidak ketika kita mencurahkan hati kita, kita curahkan bertatap muka dengan teman-teman sejati, dengan mendapatkan masukan yang membangun, tepat, dan betul-betul berguna.

Paling tidak ketika dulu kita menghadapi jalan buntu dan tidak ada orang yang mengerti kita dan mendengarkan kita, kita berlutut dan berdoa atau bermeditasi atau mencari ke dalam diri kita sebuah ketenangan dan kekuatan yang pada akhirnya memang betul membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan tenang.

Saya kangen rasa-rasa seperti itu. Tidak enak rasanya jadi tempe. Loyo, gampang kalah, gampang tertekan, gampang menyerah. Sedikit yang bisa kita lakukan.

Makanya, buat saya pribadi, saya sudah sangat mengurangi celotehan saya, terutama tentang mengeluh, nyinyir, dan curhat. Boleh cek timeline saya dalam tahun ini, saya jauh berkurang berceloteh. Saya (belajar) hanya mengucapkan hal-hal yang membangun, informasi yang penting, tulisan yang menghibur.

Dan memang betul, saya merasa pribadi saya perlahan-lahan menjadi lebih kuat. Saya sudah terbiasa tidak curhat di setiap saat, dan saya terbiasa mencari solusi dan mengerjakan solusi itu, mencari teman bicara untuk bertukar-pikiran, dan berlutut berdoa ketimbang hanya mengeluarkan uneg-uneg di timeline.

Saya mau jadi pengusaha besi dan baja, karena pabrik tempe ini, sudah tutup saudara-saudara.

Bookmark and Share
 Hands.


  • Nitha

    Terima kasih sudah mengingatkan…. Jadi inget dulu sering banget update status bust ngomel2…
    Waktunya kembali berjuang untuk ikutan buka pabrik besi dan baja..

  • glgg

    bagus tulisanya.. tapi sayang kenapa analoginya pake tempe. jadi ingat pak karno jgua yang selalu pakai analogi bangsa tempe. gatau kenapa. padahal tempe juga bermanfaat dibanding junk food. hehe..

  • ario

    bagus banget mas edward. thanks for the sharing

  • (((( TINA ))))

    actually, I don’t how baja can turn into tempe. But this writing is so strong, I decided to delete twitter app in my so-called smartphone. Realized that I ‘talk’ so much there. Thank you and keep writing, koh :’)